BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Showing posts with label PARIWISATA. Show all posts
Showing posts with label PARIWISATA. Show all posts

Sidak Awal Masuk Kerja, Walikota Padang: ASN Pemko Padang Harus Memiliki Semangat Keppoin

Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah didampingi Kepala Dinas Perhubungan Dian Fakhri dan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Imral Fauzi melakukan sidak awal masuk kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kantor Dinas Pariwisata, Senin (10/6).

Dinas Pariwisata kota Padang saat ini memiliki 60 orang ASN, ditambah siswa  magang dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Padang sebanyak 10 orang dan mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI sebanyak 6 orang. 

Mahyeldi mengatakan ASN Pemko Padang harus memiliki semangat Keppoin yaitu kemitraan, empati, profesional, inovasi, dan integitas. Kemudian, Mahyeldi juga memberikan motivasi tentang semngat kerja dan tips istirahat sejenak (Kailulah) untuk mencharge konsentrasi dan daya tahan meski hanya 10 menit saja. Karena ketika ASN sehat dan bugar, maka selanjutnya peningkatan disiplin dalam pelayanan masyarakat akan lebih optimal.

Mahyeldi juga memberikan masukan untuk Dinas Pariwisata yaitu, ketika ada informasi atau pengaduan dari masyarakat, mereka mesti segera bertindak. Kemudian, yang paling penting adalah memastikan keabsahan info tersebut dengan mengecek pengirim info dan info yang diberikan melalui nomor kontak pengaduan masyarakat baik itu pengaduan pariwisata dan saber pungli. (Fatih)

Satu Hektar Pulau Mandeh Terbakar Hebat

Pengrusakan hutan di kawasan wisata Mandeh Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat kembali menjadi sorotan, setelah sebuah pulau di kawasan tersebut rusak dibakar. Kondisi ini sudah diketahui Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni. Dia mengaku geram dan akan segera menyusut peristiwa tersebut.

"Saya sudah dapat informasi. Nanti kami akan turun ke lapangan bersama tim, kita cari pelakunya sampai ketemu," sebut Bupati Hendrajoni

Pulau yang kembali terbakar di Mandeh ini bernama Pulau Taraju yang terdapat dalam wilayah Sungai Nyalo, Kecamatan Koto XI Tarusan. Diduga, pembakaran itu disengaja guna membangun resort. Wali Nagari Sungai Nyalo Mudiak Aia, Kecamatan Koto XI Tarusan, Marjam, mengakui pembakaran pulau tersebut diketahui lebih kurang seminggu yang lalu.

Ia menjelaskan, kebakaran yang terjadi di Pulau Taraju diperkirakan mencapai lebih kurang 1 hektar dan di lokasi sudah terdapat satu pondok milik pihak yang diduga telah melakukan pembakaran. "Kini sudah tampak gundul pasca pembakaran. Luas yang dibakar lebih kurang 1 hektar," jelas Marjam.

Marjam menuturkan, pihaknya sudah melaporkan kondisi pulau tersebut ke Pemkab Pessel serta jajaran kepolisian setempat. Diduga kebakaran tersebut disengaja, karena dari kebakaran tidak ada tanda-tanda upaya pemadaman saat itu. "Kami sudah laporkan kepada Camat dan ditembuskan kepada Bupati, Kapolres dan DPRD. Siapapun pelakunya harus ditindak," harapnya.

Ia menambahkan, masyarakat bersama pemerintah nagari sudah lama berkomitmen untuk selalu menjaga dan merawat kelestarian alam kawasan wisata Mandeh, Kecamatan Koto XI Tarusan. Sebelumnya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Mandeh sudah pernah terjadi, tepatnya di kawasan Bukit Ame di Kecamatan Koto XI pada Sabtu 10 September 2016 lalu.

(Klik Positif)

Pulau Penyu, Destinasi wisata Halal masa depan

Pesisir Selatan (24/11) Sumatera Barat memang kaya akan potensi wisata alam. Dari mulai gunung dan hutan, sampai keindahan pulau dengan pasir dan ombak yang menawan. Salah satu kawasan wisata yang belum banyak dijamah orang, Pulau Penyu memiliki pemandangan yang cantik dan eksotik. Pasir pantai yang putih serta luasnya kawasan dangkal untuk bermain dan menyelam (snorkling) menjadi daya tarik tersendiri.

Dalam kunjungannya ke Pulau Penyu, Ketua DPP Ikatan Keluarga Pesisir Selatan (IKPS) Bidang Kepemudaan, Hamdanus melihat begitu besar potensi wisata di tempat itu. Dengan kondisi pantai dan pulau yang masih sangat alami, sangat mungkin menggaet investor dari luar pesisir selatan untuk mengembangkan potensi wisata. Orang Dekat Gubernur Sumbar ini juga menyebutkan akan mencarikan investor yang sesuai untuk pengembangan lokasi wisata.

"Saya akan coba cari investor, tapi sebelumnya, saya pastikan dulu konsep wisata yang ditawarkan jelas. Kita di Sumbar sekarang sedang mengembangkan wisata Halal dan syar'i, sesuai falsafat orang minang. Kita konsep ddan kemas, lalu kita tawarkan nanti ke investor, saya yakin banyak yang tertarik," ujar Hamdanus.

Dalam kunjungannya itu, Hamdanus membawa serta Keluarga Besar Suku Malayu Salido sebagai pemilik pulau. Salah satu anggota rombongan, Bundo Kandung Malayu Salido, Rizana Taufik sangat senang dengan perhatian Hamdanus dalam pengemangan wisata di pulau penyu. Menurutnya, dengan berkembangnya pulau penyu sebagai salah satu destinasi wisata halal, pastinya berdampak positif bagi perkembangan ekonomi keluarga besar serta anak kemenakannya nanti. Rizana juga berharap Hamdanus bisa mewakili suara masyarakat Pessel untuk pengembangan kawasan nantinya ketika duduk di Kursi DPRD Sumatera Barat mewakili Pessel.

(bap)

Seribu Kopi Kawa Daun Siap Raih Rekor Muri

Sebanyak 1.018 gelas kawa daun yang merupakan minuman tradisional asal Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat dipersiapkan dalam rekor Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) dalam Festival Pesona Budaya Minangkabau tahun 2018.

Pemecahan rekor tersebut direncanakan dalam hal meminum kopi kawa daun terbanyak pada saat pembukaan even pariwisata yang akan digelar pada akhir November mendatang.

"Pada pembukaan Festival Pesona Budaya Minangkabau nanti, kita akan menyiapkan sebanyak 1.018 gelas kawa daun," kata Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Tanah Datar, Abdul Hakim di Batusangkar, Kamis.

Ia menyebutkan, festival tersebut akan digelar selama empat hari, mulai dari tanggal 28 November hingga 2 Desember dengan berbagai agenda yang telah dipersiapkan.

Menurutnya, kopi kawa daun dipilih karena minuman tersebut merupakan salah satu kuliner khas dari Tanah Datar dan sudah ada sejak lama.

Kopi kawa daun terbuat dari daun kopi yang sebelumnya sudah diasapi sampai kering dan kemudian baru direbus untuk kemudian airnya dapat diminum.

Dalam penyajiannya, kopi kawa daun tidak menggunakan gelas atau cangkir sebagai wadah, akan tetapi menggunakan wadah dari tempurung atau batok kelapa.

"Salah satu keunikan dari kawa daun adalah dalam hal penyajian, minuman tradisional ini disajikan dalam wadah dari tempurung kelapa," ujarnya.

Sebelumnya, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Tanah Datar, Edi Susanto mengatakan hingga akhir tahun 2018, terdapat dua even besar bertaraf internasional yang akan digelar di daerah tersebut.

Selain Tour de Singkarak (TdS) yang digelar mulai dari tanggal 3 hingga 11 November, even lainnya adalah Festival Pesona Budaya Minangkabau yang dijadwalkan akan dilaksanakan pada akhir November hingga awal Desember mendatang.

(AntaraSumbar)

Berikut Lintasan yang Akan Dilalui Pebalap Tour de Singkarak 2018

Tour de Singkarak 2018 dimulai telah di mulai ahad kemarin (11/4/2018) yang diikuti oleh 15 tim dari 26 negara.

Sedangkan untuk rute, Tour de Singkarak TdS 2018 akan digelar delapan etape dengan melibatkan 15 dari 19 kabupaten dan kota di Provinsi Sumatera Barat.

Delapan etape ini akan menempuh rute sepanjang 1.100 kilometer.

Untuk menghindari kemacetan, berikut lintasan yang akan dilalui oleh pebalap Tour de Singkarak 2018:

Stage 1 tanggal 4 Nov 2018

Kota Bukittinggi - Kabupaten Sijunjung (140,5 km), Start Lapangan Kantin - Panorama - Pasar Banto (loop 1X)-Jalan Raya Bukittinggi Payakumbuh - Baso - Batusangkar - Istano Pagaruyuang - Saruaso - Sitangkai - Tanjung Ampalu- Gambok- Muaro Tobi - Tanah Badantuang - Lintas Sumatera - Perkampungan adat- dan finish Gedung Pancasila.

Stage 2 tanggal 5 Nov 2018

Kota Sawahlunto - Kabupaten Dharmasraya (204,1 km) Start Lapangan segi tiga-Pasar Sawahlunto - Simpang Muaro Kalaban - jalan Lintas Sumatera - Pulau Punjung - Sei Rumbai - Simpang Sikabau - Finish Kantor Bupati Dharmasraya.

Stage 3 tanggal 6 Nov 2018

 Kabupaten Solok - Tanah Datar (150,4 km), Start Dermaga Singkarak Saniang Baka - Batu Taba - Simpang Kubu Karambie - Simabur - Pasar Batusangkar - Gedung Indojalito- Gedung Nasional - Finish Istano Basa Pagaruyuang.

selanjutnya 

(tribun)

Ini Rute Etape Tour De Singkarak 2018


Stage 4 tanggal 7 Nov 2018

Kota Padang - Kabupaten Agam (144 km), Start Lapau Panjang Cimpago Pantai Padang - Jalan S Parman - UNP - Pasar Lubuk Buaya - Simpang BIM - Simpang Patung Ikan Lubuk Alung - Bypass Pariaman - Sungai Garingging - Kantor Bupati Agam - Kelok 44 Finish di Hotel Nuansa Maninjau.

Stage 5 tanggal 8 Nov 2018

Kabupaten Limapuluhkota - Pasaman (170,5 km), Start Kantor bupati - kelok 9 - Sarilamak - Simpang 4 Tanjung Pati - Bukik Limbuku - Taram-Andaleh - Tarok - Batang Tabik - Labuah Basilang - Polres Payakumbuh - Piladang - Baso - Simpang Bypass Bukittinggi - Palupuah - Bonjol - Pasal Lubuk Sikaping - Finish di Kantor Bupati Pasaman (loop 1 kali).

Stage 6 tanggal 9 Nov 2018

Kota Solok - Payakumbuh (105 km) Start Lapangan Merdeka Pasar Solok - Pulai Belibis - Tanah Garam - Dermaga Singkarak - Ombilin - Batusangkar - Simpang Piladang - Polres Payakumbuh - Pasar Payakumbuh - Lampasi - Finish Ngalau.

Stage 7 tanggal 10 Nov 2018

Kota Padang Panjang - Solok Selatan (194,4 km), Start BRI Padang Panjang - Simpang Delapan - RSUD Padang Panjang - Simpang Jao - Simpang Kubu Karambie - Dermaga Singkarak - Tanah Garam - Simpang Rumbio - Muaro Paneh - Bukik Sileh - Arahan Panjang - Muaro Labuah - Finish Kantor Bupati Solsel.

Stage 8 tanggal 11 Nov 2018

Kabupaten Pesisir Selatan - Kota Pariaman (158 km), Start di Pantai Carocok Painan - Sago - Tarusan - Bungus - Jalan Sutan Syahrir - Jalan Sudirman - Jalan Khatib Sulaiman - Pasar Lubuk Buaya - Patung Ikan Lubuk Alung - Finish Pantai Kata Pariaman.

sebelumnya 


(Tribun)

Bahasa Tansi Sawahlunto Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Takbenda

 
Pemerintah Republik Indonesia (RI) melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menetapkan Bahasa Tansi Sawahlunto sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTI) asal Sumatera Barat.

Penetapan ini ditandai dengan penyerahan sertifikat WTBI oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI yang diwakili oleh Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid kepada Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno pada acara Apresiasi Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta pada Rabu (10/10).

Atas ini, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan, penetapan Bahasa Tansi sebagai WTBI merupakan kebanggaan bagi masyarakat Sumbar, khususnya warga Sawahlunto. Gubernur lebih lanjut berharap, mengikuti jejak Bahasa Tansi, ke depan akan lebih banyak produk budaya dan kearifan lokal Sumbar yang ditetapkan sebagai WBTI.

“Kita berharap kedepan semakin banyak warisan budaya yang ada di Sumatera Barat naik statusnya menjadi warisan budaya Indonesia,” katanya di sela acara penyerahan tersebut.

Kegiatan Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia dilakukan sebagai upaya untuk melindungi dan menjaga kelestarian warisan budaya takbenda yang ada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, melalui inventarisasi, pengamanan, pemeliharaan, penyelamatan dan publikasi objek pemajuan kebudayaan yang melibatkan pemerintah daerah, komunitas dan akademisi.

Pemberian status Budaya Takbenda menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia diberikan oleh Mendikbud berdasarkan rekomendasi Tim Ahli yang meliputi lima domain sesuai dengan Konvensi 2003 UNESCO tentang Safeguarding of Intangible Cultural Heritage, yakni: Tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya tak benda; Seni pertunjukan; Adat istiadat masyarakat, ritus dan perayaan; Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenainalam semesta; Kemahiran kerajinan tradisional.

(targetindo.com)

Masjid Agung Nurul Iman Sebagai Destinasi Wisata Religi


Pergantian tahun baru Islam menjadi momen awal Perubahan Masjid Agung Nurul Iman menjadi destinasi baru di Kota Padang, Tepat pada 10 September 2018/30 Dzulhijjah 1439 Pemerintah Kota Padang memperingati Pergantian tahun baru HIjriyyah di Masjid Agung Nurul Iman. Acara ini dihadiri seluruh pejabat SKPD Kota Padang, Kementerian Agama Kota Padang, dan pejabat lainnya. Acara ini dimulai dengan Shalat Ashar Berjamaah.

Tak hanya pejabat pemerintahan Kota Padang, Hadir pula ratusan siswa siswi SMP se Kota Padang memenuhi Masjid Agung Nurul Iman, mereka dengan penuh kegembiraan menanti detik detik pergantian tahun baru islam. Acara diawali dengan sambutan sambutan dari kepala kemenag kota padang, kemudian tabligh akbar yang disampaikan oleh Usatdz H Ghufron SS, dan juga dimeriahkan oleh Tim nasyid dari smp 1 padang.

“Maka kita harus awali tahun baru islam ini dengan ketha’atan dan kesholehan,” pesan Ustadz Ghufron kepada hadirin yang hadir. Acara ini memang menjadi salah satu keistimewaan pemerintah kota padang, ketika acara acara bernuansa islami, maka pemerintah selalu sigap untuk mengadakan kegiatan.

Sebelum walikota padang menyampaikan sambutan, dinas pariwisata dengan MUI kota padang menandatangani SK Masjid Agung Nurul Iman sebagai destinasi wisata religi. Pengurus masjid sangat mengapresiasi pengukuhan destinasi ini. Begitu pula Kepala dinas pariwisata mengharapkan setelah pengukuhan ini, “ fasilitas, kelayakan, dan kenyamanan masjid mesti dperhatikan” ujar Medi Iswandi.

Ketua harian masjid agung Nurul iman, Mulyadi Muslim memaparkan “ kami dari secretariat akan berusaha semaksimal mungkin menata dan menyiapkan fasilitas sesuai standar Syariah, agar masjid ini memang layak dijadikan destinasi wisata halal”.

Semoga dengan pengukuhan ini, masyarakat kota Padang kembali bersemangat untuk menjadikan Masjid Agung Nurul iman sebagai tempat beribadah, berwisata, dan beristirahat. (MBL)

Kebun Binatang Bukittinggi Kedatangan Satwa Baru


Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) lebih dikenal kebun binatang Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar), segera mendatangkan satwa baru dari Batu Secret Zoo, Jawa Timur.

Kepala Bidang TMSBK Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Bukittinggi, Ikbal di Bukittinggi mengatakan, ada tiga jenis satwa masing-masing jantan dan betina yang didatangkan ke TMSBK. Ketiga jenis satwa yang akan diterima TMSBK yaitu llama dan alpaca yang merupakan satwa asal Amerika Selatan serta primata mungil marmoset. (killua)

sumber : antarasumbar

Tradisi Maanta Marapulai di Festival Pasa Harau


Rangakaian kegiatan Pasa Harau Culture and Art Festival 3 yang digelar di nagari Harau Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar) hadirkan tradisi Alua Maanta Marapulai untuk disaksikan oleh para pengunjung.

"Dari sekian banyak tradisi yang ada, kami sengaja memilih tradisi Alua Manjapuik Marapulai karena dinilai unik dan menarik," kata Direktur Pasa Harau, Dedi Novaldi di Harau, Sabtu.

Kegiatan Pasa Harau Culture and Art Festival merupakan sebuah perhelatan seni dan budaya yang digelar di tengah-tengah perkampungan masyarakat pada tanggal 13 hingga 15 Juli 2018 di Kenagarian Harau.

Ia menyebutkan, prosesi Maanta Marapulai atau mengantar mempelai pria tersebut sengaja dihadirkan untuk disaksikan oleh seluruh pengunjung Pasa Harau, terutama yang berasal dari luar daerah dan luar negeri untuk memperkenalkan tradisi Minangkabau.

Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Harau, Defendi Datuak Patiah Nan Gamuak mengatakan prosesi Maanta Marapulai merupakan salah satu dari beberapa prosesi dalam rangkaian pernikahan dan pesta di Minangkabau.

Ia mengatakan Maanta Marapulai dapat dikatakan sebagai prosesi terakhir dalam rangkaian acara pesta perkawinan, setelah dilakukannya prosesi pernikahan.

Pada kesempatan tersebut si mempelai pria atau marapulai awalnya dijemput oleh perwakilan pihak mempelai wanita dengan sebutan Manjapuik Marapulai.

Menurut dia, setelah itu baru dilanjutkan dengan arak-arakan mempelai pria bersama pihak keluarganya menuju ke rumah mempelai wanita.

Arak-arakan tersebut juga dimeriahkan dengan kesenian khas Minang yaitu Talempong Pacik yang mengiringi rombongan.

"Arak-arakan ini bertujuan untuk memberitahukan kepada masyarakat luas bahwa di daerah tersebut terdapat sepasang pria dan wanita yang telah melepas masa lajang," ujarnya.

Ia menambahkan, dengan ditampilkannya salah satu tradisi yang ada pada masyarakat Harau ini diharapkan dapat melestarikan tradisi tersebut dan dapat dikenal oleh masyarakat luas

(Antara Sumbar)

Begini Megahnya Masjid Terapung yang Akan Dibangun di Pariaman






Pemko Pariaman lakukan pemancangan perdana tiang bangunan Masjid Terapung yang akan menjadi ikon wisata religi Kota Pariaman di tingkat Provinsi Sumbar yang berada di kawasan Desa Pauh Barat, Kota Pariaman, Senin, (2/7/2018).

Pemancangan tonggak perdana ini juga ditandai penandatanganan prasasti oleh Walikota Pariaman di lokasi Pembangunan Masjid Terapung tersebut yang disaksikan langsung Asisten Administrasi Umum Pprov Sumbar Nasir Ahmad, Wawako Genius Umar, Muspika dan Muspida Pariaman, Pimpinan BUMN/BUMD, Kepala OPD, Camat dan Kepala Desa/Kelurahan se-Kota Pariaman.

Walikota Mukhlis Rahman mengungkapkan keberadaan bangunan Masjid ini nantinya dapat membawa perubahan yang lebih baik lagi bagi masyarakat Kota Pariaman dan sekitarnya.

"Karena untuk membangun masjid terapung ini saja memerlukan biaya yang cukup besar yang tidak mungkin dibangun dalam waktu satu tahun, akan tetapi butuh waktu beberapa tahun untuk mengerjakannya mengingat pembiayaannya bersumber dari APBD Kota Pariaman, termasuk juga mengenai perizinannya melalui rekomendasi dari Pemerintah Provinsi Sumbar," tutur Mukhlis.

Ia melanjutkan, Alhamdulillah Pemko Pariaman telah penuhi dan lengkapi perizinan tersebut sehingga tepat pada HUT Kota Pariaman ke-16 ini pembangunannya bisa kita mulai.

Mukhlis Rahman, merasakan mendapat sebuah kehormatan tersendiri karena dipenghujung kepemimpinannya masih berkesempatan untuk menanamkan tiang perdana Pembangunan Masjid Terapung ini.

Ia juga berharap dengan diraihnya suara terbanyak Pilkada Kota Pariaman oleh Genius Umar dan Mardison Mahyuddin dapat melanjutkan pembangunan masjid ini sampai selesai sehingga di HUT Kota Pariaman ke-21 bangunan Masjid ini selesai dan Genius Umar dapat Meresmikan Pembangunan pemakaian Masjid Terapung Kota Pariaman.

Sementara itu, Asisten Administrasi Umum Nasir Ahmad mewakili Gubernur Sumbar mengatakan bahwa bangunan masjid ini bukan saja untuk ibadah tetapi Pusat pendidikan dan pengembangan islam, perkembangan ekonomi karena akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Sumbar yg menganut sistem Adat basandi Syarak dan Syarak Basandi Kitabullah.

Ia berharap bangunan masjid terapung yang akan menjadi sebagai ikon Kota Pariaman dalam Provinsi Sumbar ini tidak hanya dibangun melalui APBD, namun dukungan pihak lain dalam mendukung percepatan pembangunan secara bergotong royong baik yg diranah maupun yang dirantau.

"Jangan sampai masjid ini dibangun hanya untuk kualitasnya saja, tapi mari kita bangun juga kualitas dari sumber daya manusia, khususnya generasi muda sendiri yg juga menjadi kewajiban pemerintah dan pelaku kepentingan dalam mencapai manfaat dari masjid itu sendiri," tutupnya. (warman)

Sumber: Minangkabaunews

Kini Dengan Sampah Plastik Bisa Raun Keliling Padang



Untuk menikmati keindahan objek wisata Kota Padang kini tak perlu merogoh kantong. Cukup dibayar dengan sampah plastik, pengunjung sudah bisa raun-raun keliling Padang menggunakan bus patiwisata.

Ini merupakan program baru pemerintah kota Padang, kerjasama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (disbudpar) Kota Padang. Program ini dilaunching langsung oleh Walikota Padang, Mahyeldi di Pantai Cimpago, Ahad (24/6).

Untuk program kebersihan dirancang oleh DLH, sementara disbudpar menyediakan bus pariwisata bagi pengunjung.

"Disbudpar punya program Raun Sabalik Kaliliang Padang yang sudah dilaunching beberapa bulan lalu. Nah untuk menumbuhkan kepedulian pengunjung terhadap kebersihan kawasan wisata, DLH mengajak pengunjung untuk terlibat menjaga kebersihan dan kita berikan apresiasi berupa karcis raun dengan bus pariwisata. Satu karcis bisa ditukar dengan 1 botol bekas air mineral ukuran besar, 3 botol ukuran menengah dan 10 botol bekas ukuran gelas," papar Medi.

Sementara itu Mahyeldi mendukung dan mengapresiasi program ini. Menurutnya ini adalah program positif dan kreatif guna mewujudkan Padang bersih. (mc)

Kala Menuju Lokasi Kampanye, Mahyeldi Hendri Datang Berdampingan


Tetap kompak walaupun tak sealur lokasi tempat tinggal.

Mahyeldi dan Hendri Septa datang berdampingan pada saat kampanye akbar di GOR H. Agus Salim siang ini (23/6).

Dengan seragam yang sama, duo istrinya pun ikut memakai seragam yang sama senada dengan jilbabnya.

Sudah diketahui khalayak ramai bahwasanya paslon no. 2 ini memang terlihat kompak sejak awal pasangan ini dicalonkan.

Banyak warga yang melihat terlihat senang "Mahyeldi-Hendri selalu tampil kompak, kami warga kota Padang sangat senang melihatnya, tidak saling menonjol seperti pasangan calon-calon yang lain" ungkap titi warga kota Padang salah satu relawan Mahyeldi-Hendri. (dr)

Meriahkan Lebaran, Warga Muaro Paneh Gelar Lomba Unik

Masyarakat Jorong Balai Pinang, Nagari Muaro Paneh, Kecamatan Bukik Sundi Kabupaten Solok punya cara unik tersendiri untuk mengisi semarak libur lebaran 1439 Hijriah, Minggu (17/6).

Menghibur masyarakat dan perantau yang pulang kampung, Pemuda setempat menggelar lomba panjat pinang miring di tengah sungai Batang Lembang. Kemiringannya lebih kurang 45°.

Lomba unik khas 17 Agustus-an ini menarik perhatian masyarakat di kawasan sekitar. Bahkan juga ada masyarakat daerah lain yang sengaja datang hanya untuk menyaksikan lomba yang digelar sekali setahun tersebut.

Ratusan masyarakat memadati lokasi jembatan besi. Seolah seluruh kegiatan teralihkan oleh hiburan tersebut. Orang tua, muda-mudi hingga anak-anak juga tak ketinggalan ingin menyaksikan langsung perhelatan panjat pinang yang tak lazim itu.

Batang pinang sengaja dipasang miring di tengah sungai. Seperti biasa, tetap dilumuri dengan gemuk supaya licin. Terbilang tak mudah untuk mencapai puncak yang sudah dipasangi berbagai hadiah menarik seperti celana, tas, jam dinding dan banyak lainnya

Tak jarang, para peserta yang berasal dari berbagai jorong di Nagari Muaro Paneh tercebur ke dalam sungai yang sebelumnya sudah dibersihkan. Kondisi itu mengundang sorak tawa masyarakat yang hadir.

Panitia kegiatan tersebut, Jumedi mengaku kegiatan tersebut sudah menjadi agenda rutin di Jorong Balai Pinang. Untuk kegiatan perdana sudah dilaksanakan pada tahun lalu.

"Kita mencoba menghadirkan hiburan menarik dan berbeda bagi masyarakat Muara Panas dan daerah lain," sebut Medi

(klik poitif)

Arus Mudik Usai, Polisi Fokus ke Lokasi Wisata


Arus mudik di Sumatra Barat dipastikan sudah terlewati, seiring datangnya Hari Lebaran pada Jumat (15/6) ini. Fokus pengawasan polisi pun mulai beralih kepada penjagaan destinasi wisata yang mulai ramai didatangi keluarga yang ingin menghabiskan libur Lebarannya.

Kapolda Sumatra Barat Irjen Pol Fakhrizal menyebutkan, pihaknya juga mulai bersiap menghadapi lonjakan kendaraan menuju Kota Padang untuk arus balik. "Arus mudik di Sumbar lancar. Kalau tahun lalu sempat stuck, tahun ini jalur Padang-Bukittinggi rata-rata 2,5 jam saja. Tinggal arus balik ini, semoga tetap lancar," ujar Fakhrizal usai menghadiri gelar griya di Istana Gubernur Sumbar, Jumat (15/6).

Khusus untuk arus balik, titik-titik fokus pengawasan masih sama dengan arus mudik yakni jalur Padang-Bukittinggi, lintas Limapuluh Kota menuju Riau, lintas tengah Sumatra melalui Solok dan Dharmasraya, serta lintas Padang menuju Pesisir Selatan.

"Di jalur-jalur tersebut, selama arus mudik terpantau lancar," ujar Fakhrizal.

Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit juga mengapresiasi kinerja kepolisian yang bisa membuat arus mudik di Sumbar pada tahun ini lebih lancar. Nasrul berharap, situasi kondusif akan menerus hingga arus balik nanti.

Menurut catatan Polda Sumbar, jumlah kendaraan yang masuk wilayah Sumbar dari arah Pekanbaru, Riau pada H-1 Lebaran kemarin sebanyak 876 kendaraan roda 4 per jam. Angka ini naik dibanding kalkulasi pada H-2 sebanyak 670 kendaraan per jam. Sementara kendaraan roda 4 yang masuk Sumbar melalui jalur Dharmasraya sebanyak 388 kendaraan per jam, turun 10 persen dibanding H-2 sebanyak 430 kendaraan per jam.

(Republika)

Pawai Obor Semarakkan Malam Takbiran Nagari Bawan Kab Agam

 
Ikatan mahasiswa Nagari Bawan Kabupaten Agam melaksanakan pawai obor pada malam takbiran kamis (14/6).  

Pawai obor tersebut bertemakan "dengan takbiran 1000 obor kita jalin ukhwah, menuju kebangkitan islam rahmatul lil'alamin.

Kegiatan ini dipimpin lansung ikatan mahasiswa Nagari Bawan, yang diikuti oleh setiap jemaah mesjid dan mushala se Nagari Bawan.

"Dengan ada nya acara pawai obor ini bisa menjalin tali silahturahim antar jemaah setiap mesjid dan mushala yangg ada di Nagari Bawan. Acara pawai takbiran 1000 obor ini juga jarang di adakan, sehingga sangat menarik perhatian masyarakat setempat maupun masyarakat yang datang dari luar nagari." tutur Zanil selaku ketua ikatan mahasiswa Bawan.

(t.a)

Lebaran 1439 H : Tujuh Ribu Perantau Berbondong Bondong Pulang Kampung


Jelang Lebaran, ribuan perantau kembali ke kampong halaman. Sejak Sabtu (9/6), Jalan dari Bandara Internasional Minangkabau(BIM) ke sejumlah daerah di Sumbar dipadati oleh perantau yang pulang kampung.

General Manajer PT.Angkasa Pura II BIM mengungkapkan, jumlah penumpang yang tiba di BIM hingga Jum’at (8/6) sebanyak 7.695 orang. Angka ini merupakan peningkatan sebanyak 23 persen dibanding tahun lalu yaitu 5.912 orang.
Meski  sudah mencapai angka hingga tujuh ribu orang, angka tersebut belum  merupakan  puncak arus mudik.  Angkasa Pura memprediksi puncak arus mudik pada H-3 atau 12 Juni 2018.

"Berdasarkan pengalaman tahun lalu dan data statistik diperkirakan H-3, namun demikian mengingat 11 Juni sudah mulai libur ada kemungkinan pada akhir pekan ini terjadi juga lonjakan kedatangan pemudik. Sementara untuk puncak arus balik diperkirakan akan terjadi pada 19-20 Juni serta 23-24 Juni 2018," kata General Manajer PT Angkasa Pura II BIM

Sementara sebanyak lima maskapai seperti Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya Air, Citilink dan Batik Air  mengajukan penerbangan tambahan untuk rute Jakarta-Padang mengantisipasi meningkatnya jumlah penumpang mudik pada Lebaran 1439 Hijriah .

Sumber : Harian Haluan


Megahnya Arsitektur Bangunan Masjid Rao Rao Tanah Datar


Bagi yang hendak berwisata religi ke Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat jangan lupa singgah ke Masjid Rao Rao di Kecamatan Sungai Tarab, lebih kurang 115 kilometer dari Kota Padang.

Tepat di sebelah kiri jalan dari arah Batusangkar, masjid kuno yang dibangun dengan material beton berdiri megah dengan berbagai ornamen khas Timur Tengah dan Eropa.

Masjid Rao Rao yang telah berumur lebih dari 100 tahun ini penamaannya sesuai dengan tempat masjid tersebut didirikan, yakni Nagari Rao Rao.

Memasuki pekarangan masjid, seakan membawa setiap pengunjungnya ke masa masjid ini dibangun, yakni awal abad 20.

Berdasarkan data Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Batusangkar, masjid ini mulai difungsikan pada 1916, sebab arsitektur bangunannya identik dengan gaya Eropa yang dipadukan dengan gaya Timur Tengah.

Terkait dengan keunikan masjid ini, sejarawan Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang Dr Sudarman pernah menuangkannya dalam buku berjudul "Arsitektur Masjid di Minangkabau dari Masa ke Masa".

Dalam buku tersebut dia menjelaskan Masjid Rao Rao dibangun secara bergotong royong oleh masyarakat atas prakarsa dari salah seorang pemuka masyarakat saat itu, yakni Abdurrahman Datuak Maharajo Indo.

Selain itu, ia menyebutkan, seiring dengan ekspansi kolonial Belanda ke pedalaman Minangkabau maka sedikit banyaknya berpengaruh pada bentuk arsitektur bangunan masa itu.

Salah satu bentuk pengaruh tersebut ialah Masjid Rao Rao mulai dibangun dengan menggunakan semen atau beton. Padahal, lazimnya ketika itu masjid kuno Minangkabau dibangun dengan material kayu.

Lebih lanjut, dijelaskannya bahwa masjid ini memiliki 24 tiang. Semua tiang merupakan sumbangan dari masing-masing penghulu yang ada di daerah tersebut sebagai wujud partisipasi dalam pembangunan masjid.

Terdapat empat tiang utama yang ada di tengah-tengah ruangan masjid. Keempat tiang ini merupakan lambang dari keberadaan empat suku besar di daerah tersebut, yaitu Suku Patapang Kutianyia, Bendang Mandahiliang, Bodi Chaniago, dan Koto Piliang.

Atap masjid ini memiliki bentuk yang unik dibandingkan dengan beberapa masjid lain di Minangkabau. Di puncak atap masjid ini terdapat menara yang di atasnya berada empat atap gonjong.

Sebanyak empat atap gonjong ini menghadap ke segala penjuru mata angin dan keberadaannya merupakan salah satu bentuk pengaruh dari bentuk arsitektur tradisional Minangkabau, yaitu atap gonjong.

Selain itu, BPCB Batusangkar mencatat pada masjid ini setidaknya terdapat tiga langgam rupa bangunan yang kental dengan corak arsitektural dari tiga bangsa, yaitu Melayu atau Minangkabau, Eropa (Italia dan Belanda), dan Timur Tengah (Persia).

Sentuhan Eropa terlihat dari keberadaan tiang-tiang yang berdiri kokoh pada bangunan masjid serta ditambah dengan marmer pada lantai yang memiliki bentuk unik.

Keunikan marmer masjid ini lantaran bahan yang digunakan merupakan produk asli Eropa yang sengaja didatangkan ke Rao Rao Tanah Datar.

Singkat cerita, pada 1916 masjid ini belum memiliki lantai marmer. Hal tersebut terjadi lantaran keterbatasan dana yang sebelumnya sudah digunakan untuk pembangunan masjid.

Guna mengatasi hal tersebut maka berangkatlah beberapa orang pemuka Nagari Rao Rao ke Malaysia guna mencari perantau untuk memberikan sumbangan dana untuk pemasangan marmer.

Setelah didapatkan, maka marmer langsung di pesan ke Italia yang selanjutnya dikirimkan menggunakan kapal. Sebelum sampai di Teluk Bayur Padang, kapal tersebut sempat singgah di Selat Malaka.

Setelah sampai di Teluk Bayur, marmer kemudian dibawa dengan menggunakan kereta api hingga daerah Piladang, kemudian dari Piladang dilanjutkan diangkut dengan menggunakan pedati menuju Nagari Rao Rao.

Pada tiang yang terdapat di luar bangunan, tepatnya pada bagian teras, terdapat pelengkung atau pola lengkung yang menghubungkan antara satu tiang dengan tiang lain, sehingga makin memperlihatkan pengaruh Persia terhadap bangunan itu.

Selain itu, ornamen yang terdapat pada dinding, tiang, maupun pagar teras masjid makin menambah kuat nuansa Persia pada bangunan tersebut.

Keunikan lain dari masjid ini adalah hampir seratus persen permukaan mimbarnya dilapisi dengan pecahan keramik atau porselen. Hal tersebut tentu memberikan suatu bentuk yang unik dan menjadi ciri khas tersendiri bagi Masjid Rao Rao

Pecahan kaca yang ditempel pada mimbar tersebut merupakan pecahan kaca dari keramik dan porselen kepunyaan keluarga Haji Mutahhib saat terjadinya gempa pada 1926.

Menyaksikan Masjid Rao Rao seolah melihat masa seabad lalu, ketika masyarakat bergotong royong membangun sebuah sarana beribadah dengan bentuk berbeda dari yang lain.

Keberadaan masjid ini sebagai salah satu bangunan cagar budaya hendaknya terus dijaga kelestariannya sehingga dapat disaksikan oleh generasi penerus untuk puluhan atau bahkan ratusan tahun yang akan datang.

Melihat tampilan Masjid Rao Rao, akan membuat siapa saja yang mengunjunginya yakin bahwa nenek moyang orang Minangkabau memiliki selera yang tinggi terhadap rancangan sebuah bangunan.

Hal tersebut terlihat dari megahnya bangunan masjid yang berbeda dengan bangunan lain semasa dengannya. 

(Sumber: Antara Sumbar)

Mengenal Salah Satu Mesjid Tertua Di Indonesia, Yang Terletak Di Padang Panjang

suasana teduh terasa ketika memasuki gerbang Masjid Asasi yang berada di Kelurahan Sigando, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat.

Alunan ayat suci Al Qur'an terdengar lewat pengeras suara yang dilantunkan sejumlah murid SD sedang mengikuti Pesantren Ramadhan di rumah ibadah itu.

Sayup-sayup juga terdengar suara air yang berasal dari kaki Gunung Marapi mengalir selama 24 jam ke kamar mandi dan tempat berwudhu yang berada di depan masjid.

Ketika melihat sekilas Masjid Asasi, bagian atapnya akan langsung mengingatkan pada atap Masjid Agung Demak yang berbentuk limas berjumlah tiga tingkat. Sementara bangunan yang berjendela dan penuh ukiran mirip dengan Rumah Gadang, rumah adat Sumbar.

"Atapnya ada yang berbentuk limas dan ada bagian yang berbentuk gonjong seperti pada Rumah Gadang. Masjid Asasi adalah masjid tertua di Padang Panjang, Sesuai namanya, Asasi diambil dari asas yang berarti dasar atau sesuatu yang jadi tumpuan," kata guru Taman Pendidikan Al Qur'an (TPA) Masjid Asasi G Datuk Pono Batuah.

Masjid Asasi tersebut berlokasi di Jalan Syeh Ibrahim Musa, Kelurahan Sigando. Untuk menuju ke sana, dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda dua dan empat sekitar setengah jam dari pusat Kota Padang Panjang .

Berdasarkan buku tentang 10 masjid tertua di Indonesia yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama, Masjid Asasi adalah yang tertua ke dua yakni dibangun sekitar awal tahun 1400.

Sedangkan berdasarkan kesepakatan para tokoh masyarakat dan pemuka agama setempat pada sekitar tahun 1900, disepakati bahwa masjid itu dibangun pada 1718.

"Sampai saat ini memang belum diketahui pasti kapan tepatnya dibangun karena memang belum dikaji. Namun yang jelas masjid ini adalah tempat berpusatnya aktivitas Islam dari empat nagari," terangnya.

Masjid Asasi dibangun atas gagasan masyarakat dari empat nagari yaitu Gunung, Paninjauan, Tambangan dan Jawo di lahan yang juga adalah hibah dari masyarakat.

Dulu, segala aktivitas keagamaan warga dari empat nagari itu berlangsung di masjid tersebut. Masjid itu juga menjadi pusat aktivitas keagamaan para santri dari Pondok Pesantren Tawalid yang berada di sekitar masjid itu.

Dari lahan yang dihibahkan warga untuk masjid ada yang berupa sawah. Sawah itu dikelola dan hasilnya dibagi dua, untuk pengelola dan untuk keperluan masjid.

"Sampai saat ini pola tersebut masih berjalan dengan luas sawah yang dikelola empat tumpak, semuanya berada di Nagari Gunung," katanya.

Seiring perjalanan waktu dan berkembangnya ekonomi masyarakat, masing-masing nagari mulai membangun sendiri masjid untuk lebih memudahkan aktivitas keagamaan karena lokasi lebih dekat. Namun Masjid Asasi tetap menjadi tempat warga Nagari Gunung menjalankan aktivitas agama.

Nagari Gunung terdiri atas empat kelurahan yaitu Sigando, Gantiang, Ekor Lubuk dan Ngalau. Sigando kini menjadi salah satu desa wisata, yaitu desa wisata budaya dan religi.

Masjid Asasi telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya karena usianya dan punya arti khusus dalam pendidikan dan keagamaan. Hingga kini bangunan tersebut telah dua kali diperbaiki secara keseluruhan tanpa mengubah bentuk aslinya.

Perbaikan yang dilakukan yaitu pada bagian atap yang semula berupa ijuk diganti menjadi atap seng dan perbaikan pada dinding kayu bagian dalam masjid.

Lalu ada perbaikan-perbaikan kecil di beberapa bagian seperti ukiran tapi hanya 10 persen, 90 persen sisanya masih ukiran asli. Ruang shalat yang lantainya kayu dan tiang utama juga masih asli, menunjukkan betapa kokoh hasil kerja dan material bangunan yang digunakan masyarakat dahulu.

Bagian dalam masjid berupa ruang lapang yang ditopang delapan tiang dan satu tiang utama atau "tunggak tuo". Selain ruang lapang sebagai ruang shalat juga terdapat beberapa kamar.

Ada ruang shalat sebagai ruang utama, ada ruang arsip, pustaka dan gharin yang terpisah dari bangunan masjid.

Pada salah satu kamar, masih tersimpan benda kuno seperti brangkas dari Belanda yang sudah tidak bisa dibuka karena tidak ada yang mengetahui cara membukanya.

Di halaman tepatnya sisi kanan masjid, terdapat satu bangunan kecil menyerupai rangkiang berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan tabuh atau beduk. Semula bangunan seperti rangkiang itu berjumlah dua unit namun salah satunya hancur karena usia.

Meskipun teknologi sekarang sudah canggih, namun masyarakat Sigando masih menambuh tabuah untuk mengingatkan umat Muslim di daerah itu akan masuknya waktu shalat.

Masjid Asasi beberapa tahun lalu sudah pernah diajukan pada Balai Pelestarian Cagar Budaya di Batusangkar untuk dikaji kapan tepatnya pembangunan dilaksanakan namun sampai saat ini belum terlaksana.

Sebelumnya juga pernah ada anggota DPRD yang mencoba menelusuri sejarahnya hingga ke Leiden di Belanda, namun sayangnya tidak ada izin untuk sekadar membuat salinan dari catatan sejarah masjid ini.

Hingga hari ini, Masjid Asasi masih berdiri kokoh dan menjadi tempat beraktivitas keagamaan bagi warga dan anak sekolah di sekitarnya.

Wisata Religi

Kelurahan Sigando adalah satu dari dua desa wisata yang ada di daerah berjuluk kota Serambi Mekah tersebut. Sekretaris Dinas Pariwisata setempat, Dalius menyebutkan selain Sigando desa wisata lainnya yaitu di Kelurahan Kubu Gadang.

Sigando dikenal dengan Masjid Asasi yang menjadi salah satu pusat perkembangan Islam khususnya di daerah tersebut sedangkan Kubu Gadang terkenal karena atraksi Silek Lanyah.

Jika ada kunjungan wisatawan, pihaknya mengupayakan promosi kedua desa wisata itu pada para tamu misalnya ketika acara Temu Penyair Asia Tenggara awal Mei 2018 menginapkan tamu di Sigando dan Kubu Gadang.

G Datuk Pono Batuah mengatakan Masjid Asasi beberapa kali pernah dikunjungi tokoh agama dari berbagai negara seperti Mesir, Maroko dan Thailand.

"Mereka selain datang untuk beribadah di masjid ini juga berbagi ilmu mengenai ajaran Islam," katanya.

Pada saat Ramadhan maupun hari-hari biasa, wisatawan dari Sumbar dan luar Sumbar juga sering mampir ke masjid itu dan biasanya sambil diabadikan dengan berfoto.

"Dalam dua pekan Ramadhan tahun ini ada beberapa yang datang dari Pekanbaru dan Dumai," katanya.

Biasanya tiga hari jelang Idul Fitri, para remaja masjid di sana mulai memeriahkan suasana di Sigando menyambut Hari Raya dengan memukul tabuh atau disebut "garitiak tabuah" dan dapat dijadikan sebagai sebuah daya tarik wisata.

Suasananya yang teduh dan juga sebagai cagar budaya membuat rumah ibadah tersebut cocok dikunjungi sebagai tujuan wisata religi.

(Sumber: Antara Sumbar)

Meski Cuti, Mahyeldi Tetap Pantau Pembangunan Mesjid Yang Sempat Viral ini


Ditengah kesibukan menjelang Pilkada Kota Padang,  Walikota non aktif Mahyeldi Ansharullah tetap menyempatkan diri untuk memantau pembangunan mesjid Al- Hakim yang sempat viral di media sosial beberapa waktu yang lalu.

Mesjid tersebut sempat viral di media sosial, karena design struktur bangunan yang unik, lokasi yang strategis berada di tepian pantai Padang. Tak kalah penting juga semua dana yang di timbulkan oleh pembangunan mesjid tersebut hanya dibiayai oleh satu orang perantauan Minang yang berhasil di tanah rantau.

Oleh karena amanah dari sang perantauan tersebut, yang mempercayakan pembangunan mesjid ke Mahyeldi selaku walikota Padang kala masih aktif, hingga kini Mahyeldi masih menyempatkan waktu untuk memantau perkembangan pembangunan mesjid tersebut pada Kamis pagi (24/5) ditemani anak bungsu Ahda meskipun tengah menjalani cuti.

(t.a)