BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Showing posts with label Uighur. Show all posts
Showing posts with label Uighur. Show all posts

HRS: Indonesia wajib aktif perjuangkan Hak Etnis Uighur

Padang (22/12) Konflik berkepanjangan antara Etnis Uighur dan Bangsa China memasuki episode baru. Mata dunia terbelalak ketika salah satu media besar memberitakan adanya upaya penghapusan Etnis di kawasan Xinjiang. Di mana etnis Uighur merupakan masyarakat asli di sana.

Mulai dari aksi nikah paksa, pelarangan simbol agama, sampai Kamp yang lebih mirip dengan penjara tempat penyiksaan. Hal ini tentu saja membuat miris dunia internasional, termasuk para penggerak Hak Asasi Manusia.

Begitupun dengan Masyarakat Muslim dunia, dengan kondisi Etnis Uighur yang mayoritas muslim. Etnis Uighur ditekan serta dikekang hak menjalankan agama mereka. Aksi protes pun mengalir di seantero dunia, termasuk Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.

Partai Keadilan Sejahtera lewat Fraksi di DPR RI menyuarakan dukungan dan mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk pro aktif menyelesaikan masalah di sana. Hal ini sejalan dengan cita-cita berdirinya Bangsa Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan segala Bangsa.

Sekretaris Fraksi PKS Sumatera Barat, H. Rahmat Saleh (HRS) menyambut seruan DPP PKS terkait isu Uighur ini. HRS mengatakan Fraksi PKS Sumbar akan turut mendesak Pemerintah dari Tingkat Daerah sampai Pusat untuk bisa bergerak memperjuangkan Hak Etnis Uighur.

"Kita mesti jalankan amanat pembukaan Konstitusi kita. Kita ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial," tegas HRS kepada Tim Babarito.

HRS pun berjanji akan membawa hal ini dalam rapat di internal Partai maupun di Gedung Dewan.

(bap)

Kamp Kerja Paksa Uighur di Xinjiang

Babarito (19/12) Laporan-laporan soal kondisi mengenaskan etnis Uighur yang mengalami penahanan dalam kamp-kamp reedukasi di Xinjiang terus bermunculan. Belakangan, sejumlah media internasional mengungkapkan, Pemerintah Cina mempekerjakan paksa para tahanan etnis Uighur dan Kazakhs di kamp-kamp reedukasi tersebut.

Menurut kesaksian-kesaksian yang dikumpulkan the Associated Press dan dilansir pada Selasa (18/12), para tahanan dipaksa bekerja setelah menjalani indoktrinasi Partai Komunis Cina, dilarang menggunakan bahasa etnis mereka, dan tak boleh menjalankan ritual-ritual agama Islam.

Belasan yang sempat ditahan atau memiliki anggota keluarga dalam kamp menuturkan bahwa para tahanan tak diberi pilihan lain selain bekerja di pabrik-pabrik di sekitar kamp reedukasi. Sebagian koridor antara kamp tahanan dan pabrik-pabrik itu dilaporkan dipagari kawat duri dan diawasi kamera pengawas.

Seorang saksi mata yang menyaksikan langsung operasional kamp mengungkapkan, pada sebuah kamp reedukasi, sebanyak 10 ribu tahanan atau 10 hingga 20 persen dari pesakitan di lokasi itu dipaksa bekerja di pabrik. Mereka dibayar hanya sekitar sepersepuluh dari yang biasanya mereka dapatkan sebelum ditahan.

“Kamp tak membayar upah sepeser pun,” kata Elyar, seorang pelarian dari Xinjiang.

The Associated Press juga melacak bahwa hasil kerja paksa di Xinjiang dikapalkan untuk perusahaan pakaian olahraga Badger Sportswear, di Statesville, North Carolina. Pihak Badger Sportswear menyatakan akan menyelidiki temuan tersebut.

Financial Times yang mewawancarai keluarga enam tahanan Uighur dan Kazakhs juga melaporkan para tahanan dipekerjakan tanpa bayaran setelah “lulus” dari pusat penahanan. Mereka tak boleh meninggalkan pabrik dan hubungan dengan keluarga sangat ketat diawasi.

Media itu juga melaporkan, di dua kamp reedukasi terbesar di Kashgar dan Yutian, kerja paksa dimulai sejak awal tahun ini. Kamp penahanan Yutian dikitari delapan pabrik yang bergerak dalam usaha pembuatan sepatu, perakitan telepon genggam, dan pengepakan teh. Para tahanan dibayar dengan upah sekitar Rp 3 juta per bulan, tetapi tak boleh meninggalkan kamp.

Sementara itu, the New York Times (NYT) pada Ahad (16/12) menurunkan laporan bahwa pencitraan satelit dan dokumen-dokumen resmi menunjukkan jumlah tahanan yang dikirimkan ke pabrik-pabrik terus bertambah.

“Warga yang ditahan jadi sumber tenaga kerja paksa tak berbayar atau dibayar dengan upah rendah bagi pabrik-pabrik tersebut,” kata Mehmet Volkan Kasikci, seorang peneliti di Turki yang mengumpulkan kesaksian dari para tahanan yang sempat ditemui keluarga mereka. “Kisah-kisah seperti ini terus berdatangan,” ujar Mehmet.

Para tahanan, merujuk laporan itu, tak hanya dipaksa meninggalkan ritual agama mereka, tetapi juga beralih dari petani, penjaga toko, dan pedagang menjadi buruh pabrik. Pabrik-pabrik itu dijuluki para tahanan sebagai "pabrik gelap" karena upah sangat murah yang mereka berikan bagi para pekerja.

Di antara saksi mata adalah Sofiya Tolybaiqyzy yang dipaksa bekerja di pabrik karpet. Selain itu, ada Abil Amantai (37 tahun) yang bekerja di pabrik tekstil dengan upah sekitar Rp 1,4 juta per bulan setelah setahun ditahan.

Nural Razila (25), yang dimasukkan dalam penahanan setahun lalu, mengatakan, ia dipaksa bekerja di pabrik tekstil meski telah menempuh pendidikan tinggi sebagai tenaga pengeboran minyak.

Wilayah Xinjiang yang terletak di bagian utara Cina dihuni oleh mayorits Muslim dari etnis Uighur dan Kazakhs. Jumlah komunitas Muslim tersebut sekitar 10,5 juta jiwa.

Beberapa tahun silam, seiring meningkatnya separatisme di kawasan itu, Pemerintah Cina memberlakukan kebijakan tangan besi. Dua tahun lalu, ratusan ribu Muslim ditahan dan dimasukkan dalam kamp-kamp reedukasi.

PBB melaporkan pada Agustus lalu, sekitar satu juta warga Xinjiang ditahan dalam kamp-kamp tersebut dan mendapat perlakukan buruk, seperti indoktrinasi, bahkan penyiksaan. Lembaga-lembaga pegiat HAM internasional, seperti Human Right Watch dan Amnesty Internasional, juga mengonfirmasi laporan soal penahanan-penahanan tersebut.

Pada Oktober lalu, Cina akhirnya mengakui keberadaan kamp-kamp tersebut dan melegalkannya. Kendati demikian, pengamat internasional sejauh ini tak ada bisa menembus kamp-kamp tersebut.

Pemerintah Cina berkeras bahwa kamp-kamp yang mereka sebut “pusat pendidikan vokasional” itu didirikan untuk menghabisi radikalisme di Xinjiang. Para tahanan, menurut mereka, dididik untuk kemudian dipekerjakan. Media corong Pemerintah Cina, Global Times, menuliskan dalam editorial mereka awal Desember lalu, warga Uighur dan Kazakh dimasukkan ke dalam kamp agar bisa diubah menjadi “manusia normal”.

Sejauh ini, kecaman terhadap tindakan Cina di Xinjiang kebanyakan datang dari negara-negara Barat. Senat Amerika Serikat bahkan telah menyiapkan sanksi bagi Cina terkait keberadaan kamp-kamp reedukasi di Uighur. Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Senin (17/12) menyatakan Indonesia tak bisa mencampuri urusan dalam negeri Cina. (ap/reuters ed: fitriyan zamzami)

Kisah Putri Uighur yang menolak Kaisar Cina

Kecantikan wanita Uighur itu tersohor ke seluruh stepa dan Pegunungan Tian Shan. Dia dikenal sebagai selir Rong dari Xinjiang. Sebagian memanggilnya selir wangi karena tubuhnya sangat harum.

Sejumlah sumber menyebut nama aslinya adalah Nur Ela Nurhan. Istri dari seorang panglima perang suku Uighur yang dikalahkan tentara Kekaisaran Qing. Nur diculik dan dipersembahkan untuk Kaisar Qianlong di Peking, penguasa seantero China yang memerintah dari tahun 1735 hingga 1795.

Melihat kecantikan Nur, Kaisar Qianlong jatuh cinta seketika. Dibangunnya sebuah istana dengan taman yang mirip dengan suasana di Xinjiang, kampung halaman sang putri. Tak cuma itu, Kaisar juga membangun sebuah masjid dan bangunan lain bergaya Uighur agar wanita cantik itu merasa betah tinggal di sana.

Namun rupanya semua perhatian Kaisar Qianlong tak membuat Nur alias Selir Rong luluh. Dia tak pernah membuka hatinya untuk Qianlong. Dia juga tak pernah mau ditiduri seperti selir-selir lainnya.

Suatu hari Kaisar yang mabuk masuk ke kamar Selir Rong dan mencoba melampiaskan napsunya. Namun Selir Rong mengeluarkan belati yang dia sembunyikan. Dia melukai tangan Kaisar dan membatalkan niat pria itu.

Melukai Kaisar pada zamannya adalah pelanggaran yang sangat berat dan pelakunya pasti dihukum mati dengan cara sadis. Namun Qianlong memaafkan Selir Rong karena rasa cintanya.

Ibu Suri Kaisar yang mendengar cerita itu marah luar biasa. Dia khawatir suatu saat Selir Rong membunuh Kaisar. Maka ibunda Qianlong ini meminta agar Kaisar menghukum mati Selir Rong. "Atau jika tidak mau melayani Kaisar, pulangkan saja dia ke Xinjiang," kata Ibu Suri.

Dalam Buku Dinasti Qing, Sejarah Para Kaisar Berkucir 1616-1850 yang ditulis Michael Wicaksono dan diterbitkan Elex Media Komputindo, digambarkan akhir tragis nasib Selir Rong.

Saat Kaisar sedang melakukan sembahyang tahunan, Ibu suri memanggil Selir Rong ke istananya. Dia memerintahkan seluruh puri ditutup rapat dan dijaga ketat. Bahkan jika ada, Kaisar pun tak diizinkan masuk.

Ibu Suri bertanya, apa sebenarnya keinginan Selir Rong?

Jawabannya hanya sepatah kata. "Mati," kata Selir Rong sambil berlinang air mata.

Ibu Suri mengabulkan permintaan itu. Dia memberi selendang putih dan membawa Selir Rong ke ruangan kosong di sebelah selatan istana. Selir Rong berlutut dan mengucapkan terima kasih sebelum mengakhiri hidupnya dengan menggantung dirinya.

Seorang Kasim atau pelayan istana yang mengetahui kejadian itu segera berlari ke Kuil Langit tempat Kaisar Qianlong bersembahyang. Qianlong berlari menuju kediaman Ibu Suri namun terlambat. Selir Rong sudah meninggal.

Kaisar memerintahkan jenazah selir kesayangannya itu diurus dengan baik dan dimakamkan khusus di Paviliun Taoran, di sebelah selatan Peking.

Versi yang berkembang di Masyarakat Uighur sedikit berbeda. Sang Putri tak mati bunuh diri, tapi tewas karena diracun oleh Ibu Suri dan selir-selir Kaisar yang iri padanya. Akhir kisah Selir Wangi ini tak kalah tragis. [ian]

Reporter: Ramadhian Fadhilah

Sumber: Merdeka.com